Pro Kontra Lapak Pedagang Pasar Klandasan, Komisi II DPRD Balikpapan Minta Kejelasan Disdag dan UPT

BAGIKAN
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BALIKPAPANUPDATE – 2 orang pedagang pasar Klandasan bernama Hatta dan Rahmatia mendadak mendatangi kantor DPRD Kota Balikpapan pada senin pagi (20/9/21), mereka mempertanyakan lapak berjualan mereka yang masih simpang siur pembangunannya tidak merata kepada pedagang lama dan muncul dugaan lapak diperjual belikan kepada pedagang luar, Mereka pun sudah menanyakan hal tersebut kepada kepala Dinas Perdagangan Balikpapan Arzaedi Rachman namun jawabannya seolah-olah tidak mengetahui adanya pembangunan lapak di area bekas kebakaran  tersebut “Dari laporannya tadi ada 42 lapak yang saya liat di lapangan 45 lapak, bisa tolong nanti liat kesana ,ini kita tanyakan kepada beliau kepala dinasnya sekarang ada bangunan, dia pura-pura kaget masa ada bangunan, akhirnya kita disuruh temui kepala UPTnya, biar gak dipermasalahkan”, Ujar Hatta, pedagang pasar klandasan yang berusia 51 tahun.

Menurut Hatta ada ketidaksesuaian data pedagang yang seharusnya menerima lapak dari UPT Pasar Klandasan, “Pointnya masalah bangunan ini , karena dia selalu mengatakan ini bangunan pemerintah tidak pernah disetujui disini, sudah mangkrak 1 tahun 6 bulan”, Terang Hatta.

Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan Haris mengaku bukan kali pertama pedagang pasar klandasan datang menemuinya, ada 3 bahkan 4 kali pedagang pasar berbeda pada beberapa hari lalu mengadukan permasalahan yang sama terkait protes pembangunan lapak pedagang klandasan di lokasi area pasca kebakaran  20 Mei 2012 Lalu, bahkan dirinya tak mengetahui adanya informasi pembangunan lapak pedagang “kami dari anggota DPRD tidak tahu sama sekali , kalau kami dari komisi II kalaupun itu ada dibangun petak seharusnya kita pemerintah kota lah yang membangunkan  dengan dipungut retribusi”, Ujar Haris.

Haris meminta kepada Dinas Perdagangan untuk merancang program jangka panjang terhadap nasib pedagang pasar klandasan pasca kebakaran untuk UPT Pasar Klandasan tujuannya agar pembangunan pasar klandasan nantinya tidak kumuh dan dapat tertata rapi terlebih lokasi pasar berada dijantung kota Balikpapan yang ramai dikunjungi wisatawan untuk mencari cinderamata “Dengan dibangunnya 45 petak ini pasar klandasan menjadi kumuh , kepala UPTnya tadi kami pertanyakan katanya itu adalah pembangunan yang langsung dibangun oleh penjual sendiri, seharusnya kita yang membuat program pemkot dengan dibangunkannya petak yang lebih layak lah lebih bagus sehingga terjadinya seperti ini”, Terang Haris.

Pembangunan lapak pedagang pasar klandasan semestinya tidak mangkrak dengan asumsi pembiayaan sekitar Rp 5 juta untuk setiap lapak sehingga pemerintah dapat menarik retribusi Rp 5 ribu setiap harinya, jadi seharusnya pemerintah yang membangun bukan pihak pedagang yang diminta untuk melakukan pembangunan lapak secara mendiri karena akan berakibat pada kondisi bangunan terlihat kumuh dengan sanitasi buruk “kita Tanya lagi sama kepala UPT, alasan Rp 5 juta ini dipegang UPT atau kepada PKL yang mendapat petak itu sendiri , kalaupun itu ada biaya pembangunan Rp 5 juta berarti akan masuk kedalam kas daerah, PKL membangun 45 petak itu akan diberikan setiap harinya retribusi 5 ribu keinginan kami seharuisnya didesain yang bagus dan layak untuk PKL, kita liat sendiri kan pembangunannya malah menjadi kumuh, saya malah dapat informasi Hanya dengan Rp 1,5 juta membangunnya jadi semaunya,itu laporannya masyarakat, problem ini dari disdag atau UPT kalau UPTNya mengatasnamakan program UPT yang disetujui kadis dan diketahui wali kota

”, Ucap Haris.

Untuk itu dirinya meminta kepada jajaran Dinas Perdagangan, UPT Pasar Klandasan, dan Pedagang Pasar terkait untuk mengikuti Rapat Dengar Pendapat yang diajukan Komisi II DPRD Kota Balikpapan pada rabu lusa 23 september 2021,  “kita akan memanggil RDP dinas perdagangan kita tau sendiri biaya klandasan setelah sengketa, Jangan sampai yang dapat petak itu bukan pedagang malah disewakan”.Tambah haris. (dy/bu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *