Kartu Prakerja, ‘Rumah Cokro Raksasa’ di Era Digital

BAGIKAN
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA – Bapak Bangsa sekaligus proklamator Indonesia Soekarno dikenal memiliki segudang pengetahuan dan keterampilan. Selain karena pendidikan formal, bekal multiskill didapat Bung Karno berkat pergaulannya dengan berbagai tokoh besar yang rela saling berbagi wawasan dan keahlian.

Rumah Cokro milik petinggi Sarekat Islam Hadji Oemar Said Tjokroaminoto menjadi saksi sejarah saat Bung Karno belajar dari sejumlah tokoh nasional lain ketika mereka mengenyam pendidikan di Surabaya. Di situlah, Soekarno muda bertemu dan berbagi ide dengan figur penting tanah air seperti Tan Malaka, Semaun, Alimin, Darsono, Musso hingga Kartosoewirjo. Di kemudian hari, mereka menjadi sosok yang memegang teguh pandangannya masing-masing dalam memajukan masyarakat Indonesia.

Program Kartu Prakerja dengan keseluruhan ekosistem yang ada di dalamnya dapat dimaknai sebagai ‘Rumah Cokro Raksasa’ di era digitalisasi. Ekosistem Kartu Prakerja saat ini meliputi 7 platform digital, 183 lembaga pelatihan dengan 780 pelatihan aktif, 5 mitra pembayaran, 3 job portal, dan 7 institusi pendidikan menjadi semacam rumah belajar bersama yang menjangkau lebih dari 10,6 juta angkatan kerja di 514 kabupaten dan kota seluruh Indonesia.

Demikian pula Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), bisa mengambil hikmah dari kisah masa muda Bung Karno dan menjadikan dirinya sebagai ‘Rumah Cokro’ dalam konteks kawah candradimuka pendidikan calon bikrokrat pemikir di bidang ekonomi. Apalagi dengan sistem boarding yang diterapkan sejak Tahun Ajaran 2021/2022, mahasiswa tinggal di asrama sehingga bisa digembleng siang malam layaknya Soekarno indekost di Rumah Cokro.

Ungkapan itu disampaikan Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari saat menjadi narasumber ‘Weekly Talk’, acara diskusi para dosen PKN STAN bertopik ‘Mempersiapkan Keterampilan Baru untuk Pekerjaan di Masa Depan’, akhir pekan ini.

“Pembelajaran secara digital yang dilakukan Kartu Prakerja membantu menyelesaikan tantangan ketenagakerjaan kita, yakni kecilnya lowongan pekerjaan serta rendahnya skill angkatan kerja. Sejak awal kami bertekad menjadikan Kartu Prakerja sebagai sebuah produk, dan bukan sekadar program yang menyerap dana APBN,” kata Denni Purbasari.

Doktor ekonomi lulusan University of Colorado at Boulder, Amerika Serikat, ini menekankan, layaknya sebuah korporasi, Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menerapkan standar tinggi agar produk ini jangan sampai menjadi produk gagal.

“Untuk itu, kami harus mendengarkan suara konsumen. Pendekatannya customer-centric, dengan memperhatikan berbagai masukan di media sosial, layanan pengaduan maupun platform-platform lain, demi terus memperbaiki diri bagi kebaikan penerima manfaat di masa mendatang,” urainya.

Denni menambahkan, salah satu ciri produk gagal yakni saat dirilis tidak banyak orang yang tahu. Program-program semacam itu menghasilkan setumpuk laporan serta berbagai kegiatan seremonial dan selebrasi, tapi ternyata tidak menghasilkan dampak untuk rakyat banyak.

“Sebaliknya, informasi Program Kartu Prakerja banyak dicari masyarakat di media. Tahun lalu, Kartu Prakerja menjadi berita nomor satu paling trending di Google, dengan pengikut Instagram mencapai 3,4 juta followers. Pada tahun ini, peningkatan penerima Kartu Prakerja di Papua melonjak lebih dari 350 persen,” papar ekonom yang pernah menjadi Asisten Staf Khusus Wakil Presiden Boediono.

Dengan kelebihan teknologi digitalnya, Kartu Prakerja berhasil menjadi program inklusif yang mampu mengukur perkembangan proses pembelajaran para penerimanya. Selain itu, inklusivitas program terlihat karena Kartu Prakerja terbukti mampu merangkul orang-orang di perdesaan, eks Pekerja Migran Indonesia, difabel, serta mereka yang tinggal di daerah tertinggal.

Deputi Ekonomi Kantor Staf Presiden 2015-2020 ini menyatakan bahwa Program Kartu Prakerja merupakan cara pemerintah melakukan intervensi ketika terjadi kegagalan pasar.

“Saat ini terjadi ‘market failure’. Pasar pelatihan gagal menghasilkan kuantitas dan kualitas angkatan kerja secara optimal. Di sinilah Kartu Prakerja mendisrupsi pasar pelatihan kerja, dari yang semula top down menjadi on demand,” kata akademisi Universitas Gadjah Mada itu.

Denni Purbasari menyebut, selain pencari kerja dan karyawan terkena PHK, profil penerima Kartu Prakerja awalnya merupakan pekerja dengan gaji Rp 1,3 juta per bulan atau pelaku usaha kecil dengan omzet Rp 1,1 juta per bulan.

“Kami bersyukur, setelah mengikuti berbagai pelatihan di ekosistem Kartu Prakerja, mereka mampu meningkatkan keterampilan diri sehingga kesejahteraannya meningkat. Yang belum memiliki pekerjaan bisa diterima kerja, yang kerja kantoran statusnya naik, serta yang bergerak di bidang UMKM pun makin maju usahanya,” jelasnya.

Kepada para pengajar STAN, Denni Purbasari berpesan agar dosen meningkatkan kemampuan mengajar sehingga lulusan STAN benar-benar menjadi birokrat pemikir terbaik di bidang ekonomi.

“Input mahasiswa yang masuk STAN sudah sangat bagus, tinggal bagaimana para dosen menginspirasi mahasiswa untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka, yang mungkin saat ini mereka sendiri belum mengetahui hal itu,” kata Sarjana Ekonomi lulusan terbaik dan tercepat Universitas Gadjah Mada pada 1997 itu.

Denni pun menyarankan agar dosen menguasai subyek dengan baik, mampu menjelaskan hal kompleks dengan sederhana, memahami psikologi dan pedagogi, serta memiliki manajemen skill yang baik “Hal-hal itu hanya bisa kita lakukan jika seorang pengajar ‘love the subject’ dan ‘love the students’,” terang penerima beasiswa Fulbright untuk pendidikan master Policy Economics di University of Illinois at Urbana-Champaign ini.

Denni memberi tips agar dosen mengajar menggunakan gaya bahasa komunikasi yang biasa dipakai masyarakat. Misalnya, menjelaskan kompleksnya tantangan perekonomian Indonesia dengan visualisasi kuat ala mindmapping, storytelling dengan studi kasus, serta teknik mengulang, mempraktikkan, dan mengingat kembali.

“Jangan lupa juga, selain penguasaan hardskill ilmu ekonomi, bekali mahasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan dengan softskll yang kuat. Bagaimana melakukan disrupsi dengan inovasi, inisiatif, risk-taking, growth mindset, critical thinking, negosiasi, komunikasi, public speaking, dan lain lain,” tegas mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan IESP UGM dan Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias) Boulder, Colorado, AS.

Di akhir diskusi, Denni Purbasari mengingatkan bahwa dosen di mata mahasiswa adalah seorang ‘role model’ “Karena itu, seorang pengajar harus ‘walk the talk’. Kalau orang Jawa bilang, jangan ‘jarkoni, iso ujar nanging ora iso nglakoni’. Bisa mengajar, tapi dia sendiri tak bisa menjalankan yang diajarkan,” pungkasnya. (Hum/Kal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *