Tahapan Vaksinasi di Indonesia dan Syarat Bagi yang Punya Riwayat Hipertensi dan Diabetes

BALIKPAPANUPDATE – Vaksinasi korona di RI dimulai sejak 13 januari 2021 yang ditandai dengan penyuntikan vaksin korona sinovac ke presiden jokowi. Saat akan divaksin, jokowi tampak melewati sejumlah tahapan. Nantinya tahapan tersebut juga akan diterapkan bagi seluruh calon penerima vaksin di Indonesia. Lantas apa saja tahapan  yang perlu dilalui sebelum divaksin korona ?

Pertama Calon penerima diwajibkan datang tepat waktu dan melakukan registrasi ulang, kedua menunjukkan e-ticket dan identitas diri untuk verifikasi, nantinya jika terverifikasi akan lanjut ke pemeriksaan kondisi peserta dan identifikasi komorbid dimana jika penerima dinyatakan sehat proses vaksinasi bisa dilakukan, kemudian calon penerima disuntikkan vaksin covid-19 secara aman, setelah itu petugas mencatat hasil vaksinasi, penerima diobservasi selama 30 menit, dan diberikan kartu vaksinasi.

Sampai saat ini Proses vaksinasi COVID-19 telah berjalan selama sepekan lebih di Indonesia dengan menyasar kelompok tenaga kesehatan (nakes) sebagai prioritas. Sebelum divaksin, penerima vaksin ini wajib memenuhi sejumlah persyaratan kesehatan. Hal ini disampaikan dokter spesialis paru RSUP persahabatan dr. Erlina Burhan, Bagi penderita penyakit penyerta (komorbid), memang tidak akan diberikan suntikan vaksin corona. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan penderita hipertensi atau diabetes untuk menerima vaksinasi, dengan syarat mengontrol terlebih dahulu penyakitnya “tetapi, kalau pasien tersebut sehat dan mampu dengan minum obat teratur, kemudian berobat ke dokter dan membuat tensinya jadi terkontrol. Dan kalau syaratnya adalah tensi di bawah 140/90, maka itu orang layak divaksin”, Terangnya. Begitu juga penderita diabetes bisa divaksin,tetapi harus memperhatikan tingkat keparahannya dahulu “jadi sebaiknya kalau sakit diabetes datanglah ke dokter, periksakan diri dan cari tahu status anda dimana. Kalau HbA1C dibawah 7,5 itu akan mendapatkan tiket divaksinasi”,Ungkap dr. Erlina Burhan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *